Sebuah Garasi & Cita-Cita Pendidikan

sekolah-garasi-turen-sebuah-cita-cita-pendidikanKetika sampai di Jalan WR Supratman 4 A Desa Tanggung Kecamatan Turen, maka yang terdengar adalah suara riuh rendah anak-anak. Suara yang ceria dan penuh semangat untuk suatu saat
nanti bisa meraih mimpi. Bukan riuh rendah tanpa makna, tetapi kekompakan dalam melantunkan doa-doa dan pujian kepada

Allah yang menenangkan siapa pun yang mendengarnya.

Di antara riuh rendah anak-anak terdengar suara sosok perempuan. Sosok pelantun kata-kata yang seringnya mereka ikuti karena mereka yakin akan mencapai puncak karenanya. Tak ada yang tampak istimewa dari tempat itu. Itu hanyalah sebuah rumah dengan desain yang tak jauh berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Orang akan tercengang ketika mengetahui bahwa di teras rumah tersebut ada beberapa etalase berisi buku. Di kiri teras
terdapat sebuah garasi dan di depannya terpampang sebuah poster bertuliskan “Kelas Khalifah MI Amanah, Kreatif, Sehat, Cerdas, Ceria & Berakhlakul Karimah.”

Kelas Khalifah, kelas yang berbeda dari kelas-kelas pada umumnya. Ruang kelasnya berukuran 3 x 10 meter tanpa ada meja dan kursi layaknya Madrasah Ibtidaiyah yang lain. Ya, awalnya ruang kelas itu memanglah sebuah garasi. Dindingnya dicat hijau dan ditempeli aneka macam benda, mulai dari papan tulis, gambar hewan, tumbuh-tumbuhan, karya siswa, jadwal piket dan pelajaran, hiasan dari kertas berwarna-warni hingga buku-buku milik siswa termasuk buku diary. Ruangan itu juga dilengkapi dengan komputer, proyektor, almari untuk barang-barang siswa, rak buku, karpet, serta meja kecil. Tak ada kursi, pembelajaran dilakukan dengan berlesehan. Karena kelasnya berada di garasi, maka Kelas Khalifah lebih populer dengan sebutan Sekolah Garasi.

Pak Kentar Budhojo, sang penggagas Sekolah Garasi menjelaskan bahwa Kelas Khalifah merupakan kelas khusus yang disediakan untuk menyiapkan anak-anak agar menjadi pemimpin dan siap dipimpin. Pak Kentar tak berdiri sendiri. Tahun 2007, beliau berjuang bersama kawan-kawannya yang seide. Salah satunya adalah Marno, peternak bebek di Desa Tanggung. “Yang lain sudah pindah, dan ada yang sudah meninggal. Sekarang tinggal saya dan Pak Marno ini,” ungkap Pak Kentar.

Kelas Khalifah adalah bagian dari Madrasah Ibtidaiyah MI Amanah. MI Amanah terletak di Jalan Sultan Agung 48, juga di Desa Tanggung, sekitar 2 km dari Sekolah Garasi. MI Amanah sering disebut sebagai MI Pusat. Ternyata, Kelas Khalifah milik MI Amanah ini tak hanya ada satu, melainkan ada dua. Kelas Khalifah 1 adalah Sekolah Garasi, sedangkan Kelas Khalifah 2 terkenal dengan sebutan Sekolah Bebek karena lokasinya satu kompleks dengan kandang bebek milik Marno. Kelas Khalifah 1 baru dibuka pada tahun 2012 dan Khalifah 2 tahun 2013. Salah satu latar belakangnya, yaitu jumlah siswa yang melebihi kapasitas.

Sekolah Garasi memiliki jadwal yang cukup padat. Setiap Senin – Sabtu, para siswa masuk pukul 06.30 WIB dan pulang pukul 16.00 WIB. Pengurus menerapkan waktu istirahat sebanyak dua kali. Istirahat pertama pukul 09.10-09.50 WIB digunakan untuk salat duha dan pemberian snack. Istirahat kedua pukul 12.10-13.00 WIB
digunakan untuk makan siang dan salat duhur berjamaah. Pukul 06.30-06.50 WIB, para siswa dijadwalkan untuk membaca. Maka, setiap pagi mereka berkumpul di teras dan membaca buku kesukaan masingmasing. Pukul 14.10 WIB, pelajaran selesai,

kemudian seluruh siswa wajib mengaji. Usai mengaji, mereka juga dibiasakan untuk menulis diary dan membacanya di depan guru. Lalu, pelajaran ditutup dengan salat asar berjamaah. Ada pula beberapa siswa yang minta les sehingga harus pulang pukul 17.00 WIB.

Sedikit berbeda dengan Sabtu. Sekolah menjadwalkan Sabtu digunakan untuk pengembangan diri. Para siswa dibebaskan untuk memilih dan melakukan hal-hal yang disukai, mulai dari berkebun, berwirausaha membuat telur asin, berkarya seni, dan membuat kerajinan tangan. Setiap Sabtu dalam satu bulan, pengembangan diri
untuk para siswa beragam. Ada kalanya mereka silaturrahim ke rumah teman, berenang, serta mengunjungi tempat-tempat tertentu yang dapat dijadikan bahan ajar, seperti Gunung Kelud, Candi Penataran, dan sebagainya.

Sekolah Garasi sangat menekankan pentingnya pendidikan karakter. Pak Kentar yang merupakan dosen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) menjelaskan bahwa sekolah yang ia rintis menerapkan prinsip belajar sesuai dengan kemampuan anak, belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Pak Kentar pun
menganalogikan layaknya sebuah pisau. “Mengasah pisau di sisi yang mana? Apakah sisi yang tumpul, tajam, atau gagangnya,” tuturnya.

Ruha, salah satu guru Sekolah Garasi membenarkan hal itu. Ia mengaku bahwa sekolah berusaha memfasilitasi agar anak tetap berkembang. Bukan membiarkan jika anak tidak bisa, tapi tetap membantu sesuai kemampuan anak. Jika anak tidak bisa matematika, maka tidak akan dipaksa harus bisa matematika. Sebab, tentu si anak memiliki kemampuan di bidang yang lain. Pernah ada siswa yang ternyata disleksia, tapi ia justru mampu menggambar dengan sangat baik.

“Pendidikan formal, tapi rasa rumah. Gurunya pun seperti orang tua sendiri,” ungkap kakek dari empat orang cucu itu. Para siswa dibebaskan bermain apa pun atau sekadar tiduran. Di sana disediakan sepatu roda dan play station. Tak jarang beberapa siswa enggan pulang ketika orang tuanya datang menjemput. Mereka lebih merasa nyaman berada di Sekolah Garasi. Ada yang membaca buku dan ada yang bermain-main. Kebanyakan dari para siswa sering mencurahkan isi hatinya pada sang guru dan biasanya tentang permasalahan keluarga. Karena eratnya rasa kekeluargaan, Pak Kentar dan isterinya, Rohana, seorang pensiunan guru, memiliki
panggilan akrab dari para guru MI Amanah. Mereka memanggil dengan sebutan pipi dan mimi. “Katanya biar lebih akrab,” kata Pak Kentar.

Komunikasi antara pihak sekolah, siswa, dan wali murid sangatlah baik. Para wali murid difasilitasi dengan adanya paguyuban. Setiap bulan para wali murid dan pihak sekolah mengadakan pertemuan
untuk melaporkan kemajuan belajar siswa. Ada pula wali murid yang setiap hari menanyakan perkembangan anaknya pada guru kelas.

“Ada sebuah TK yang hidup segan mati tak hendak,” tutur Pak Kentar. Atas permintaan para orang tua pula, maka didirikanlah sebuah madrasah ibtidaiyah. Katanya, mereka tak mau anak-anaknya lupa cara berdoa dan mengaji. Pak Kentar dan kawan-kawannya pun melakukan studi banding ke salah satu sekolah alam di Sidoarjo. Awalnya mereka tak memiliki apa-apa.

Tanah, uang, tak ada apa pun di tangan. Namun, mereka tetap yakin, membiarkan segalanya mengalir seperti air. “Kalau kita membantu Allah menyiarkan agama- Nya, ya kita akan dibantu juga,” kata Pak Kentar mantab. Laki-laki berusia 64 tahun itu menjelaskan bahwa tiba-tiba bantuan datang begitu saja entah dari mana asalnya. Selalu saja aja ada yang mengirim, misalnya pasir, kapur, dan batu bata. Tanah tempat didirikan bangunan sekolah pun awalnya hanya menyewa. Ketika akan dibeli, tanah itu telah ditawar orang dengan harga 60 juta, sedangkan Pak Kentar dan kawankawan hanya berani menawar 25 juta. Keagungan Tuhan pun terbukti, pemilik tanah mau menjual tanahnya dengan harga 30 juta pada Pak Kentar. “Itu saja luas tanah di sertifikat tertera 400, tapi ketika diukur ternyata 600-an,” jelas Marno, laki-laki yang baru saja menjadi seorang kakek.

Gagasan yang dimiliki Pak Kentar dan kawan-kawannya tak lantas berjalan mulus. Di antara kesulitan yang mereka hadapi pada awal pembangunan MI adalah perizinan. Awalnya, pihak Kementerian Agama enggan memberikan izin dengan alasan tidak memenuhi syarat. MI Amanah tidak memiliki ruang kelas layaknya sekolah formal pada umumnya. Pak Kentar tak lantas putus asa. Baginya, ruang belajar adalah seluruh permukaan bumi, tidak terbatas pada dinding tembok ruang kelas. “Ruangnya ya kagungane Gusti Allah,” katanya yakin. Lagi pula, adanya meja dan kursi di dalam kelas dengan jumlah siswa yang banyak akan membuat kedekatan kurang intensif. Maka, sekolah yang ia dirikan bernuansa beda. Setiap kelas hanya terdiri atas 15 siswa sehingga rasa kekeluargaan antara guru dan siswa lebih erat.

Di Kelas Khaifah 1 bahkan ada yang hanya satu atau tiga anak. Sebab, mereka belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Titik start para siswa sama, hanya saja kecepatan berlarinya berbeda. Akhirnya, setelah berusaha menjelaskan, izin sekolah pun turun.

Selain masalah perizinan, masalah yang dihadapi Pak Kentar dan kawan-kawannya di awal perintisan sekolah adalah dari golongan masyarakat tertentu. Ada saja yang mempersulit langkah mereka. “Ada yang bilang, ‘Ojo di sekolahne ning kono, sok lek mati ndak gak ditahlili’ ,” kata Pak Kentar dengan bahasa Jawa yang kental sambil menyunggingkan senyumnya. Pak Kentar dan Marno berprinsip bahwa tak ada jual beli dalam pendidikan. Mereka harus menanggalkan semua pakaian, tak pandang bendera, dan fokus terhadap pendidikan. Semua jajarannya pun sepaham, tak ada yang berorientasi pada uang.

Para guru mengaku senang berada di Sekolah Garasi. “Karena saya suka dengan anak-anak. Kadang kalau tidak masuk kangen,” kata May yang juga guru di Sekolah Garasi. Hal serupa juga diakui oleh Ruha. Ibu satu anak tersebut mengatakan senang di MI karena bisa mendapat ilmu sekaligus berbagi ilmu. “Lebih enjoy karena anak-anak nyambung diajak komunikasi,” tambahnya.

Para siswa pun tak kalah semangat. Zidan, salah seorang siswa kelas II mengaku senang menjadi siswa Sekolah Garasi. Anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola itu dengan mantab
mengungkapkan bahwa ia akan berusaha meraih impiannya. Ada pula Amar, siswa yang sangat ingin menjadi desainer. “Saya lihat di TV, ada orang miskin yang jadi pendesain dapat gaji 10 juta,” tuturnya polos dan bersemangat sambil bermain game usai pelajaran sekolah. Siswa lain yang tak kalah semangat, yaitu Riri. Siswa kelas III tersebut mengaku bercita-cita menjadi profesor. Untuk meraih impian itu, Riri hobi membaca. Seusai pelajaran, ia membuka buku lalu duduk diam dan kadang tengkurap konsentrasi menatap jajaran huruf yang ada di depannya. Ketika itu pun ia tak akan menggubris siapa atau apa saja yang mengganggunya.

Sistem pembelajaran yang diterapkan Pak Kentar, yang awalnya banyak ditentang, ternyata berhasil. Para siswa yang telah lulus MI Amanah banyak yang diterima di SMP Negeri dan MTs Negeri. Di sana pun mereka mampu bersaing dan tidak sedikit yang menduduki peringkat 10 besar di kelas, sekolah bahkan kecamatan.

Pengalaman Pak Kentar sebagai dosen sejak 1986 membuatnya ingin menerapkan sistem pembelajaran yang lebih efektif. Keefektifan kelas kecil, pendekatan kekeluargaan, serta belajar sesuai kebutuhan. “Kebanyakan dari kita kan hanya menguasai teori-teori ketika kuliah, tapi ketika masuk sekolah, terjun di lapangan sudah lupa,” tutur laki-laki yang sebagian rambutnya telah memutih itu. Marno pun mengungkapkan bahwa tekad mereka adalah mencerdaskan anak bangsa. Para guru diajak semangat untuk jihad kepada anak-anak.

MI Amanah dengan Kelas Khalifah 1 dan 2 telah terakreditasi B. “Sebenarnya semua kriteria nilainya A. Hanya saja karena kami tidak memiliki fasilitas kelas seperti sekolah formal, jadi akreditasinya B,” kata Marno. “Kami tidak butuh akreditasi,” Pak Kentar menambahkan. Dia mengatakan bahwa akreditasi hanyalah formalitas. Pengakuan yang sesungguhnya berasal dari masyarakat. Sekolah yang ia rintis pun awalnya tak mewajibkan siswanya membeli seragam karena tak ingin memberatkan siswa. “Para orang tua yang meminta. Katanya apa bedanya anak sekolah dengan anak dolan,” terang Pak Kentar.

Pak Kentar dan Marno, dua orang dengan tekad pengabdian tinggi itu memaparkan prinsip mereka yang sejalan satu sama lain. Di tengah rintik-rintik hujan sore di rumah Marno, Pak Kentar menegaskan bahwa para siswa, guru, dan pengurus harus terus belajar dan ikhlas. “Ini bentuk amal,” tuturnya. Laki-laki itu mengaku bahwa ia tak menyukai acara-acara di TV yang cenderung tak lagi menjunjung tinggi kejujuran dan etika. Baginya, segalanya akan menjadi parah jika orang telah menafikan kejujuran dan moral.

“Kita hanya kerikil yang berserakan,” kata Marno. Dia mengaku tak memiliki apa-apa. Tapi, tahu sedikit dan terus dilaksanakan. Mereka terbuka kepada siapa saja yang ingin ikut bergabung menyi’arkan agama Allah. “Masuk gerbang rumah saya atau rumah pipi, artinya sudah menjadi keluarga. Iya, kan, Pi?” tambah Marno sambil tersenyum pada Pak Kentar.

Pak Kentar pun menguatkan dengan sesekali menyebutkan dalil Al quran dan hadis. “Sampaikanlah walau satu ayat,” tegasnya. Mereka pun tak berhenti di situ. Masih akan ada gebrakan yang telah mereka siapkan untuk kemajuan pendidikan, salah satunya rencana pembangunan Madrasah Tsanawiyah. Dengan segala perjuangan dan pengabdian yang telah mereka lakukan, tak lantas mereka merasa istimewa. Di atas langit masih ada langit. Mereka hanya berusaha berbuat banyak untuk anak dan bangsa, berbuat yang terbaik dengan segala keterbatasannya.

Yana

Sumber : http://komunikasi.um.ac.id/?p=11752

Komentar dengan Facebook

komentar